Serial Kebangkitan Islam di Indonesia (1): Pertumbuhan Kualitas Keislaman

Seorang sejarawan Muslim, Koentowijoyo, pernah mengetengahkan sebuah analisis atas pertumbuhan kesalehan Islam di Indonesia dengan sebutan “Muslim tanpa Masjid” (Koentowijoyo, 2001), yaitu sebuah fenomena dimana ummat Islam tidak lagi berkutat di lingkaran pusat-pusat tradisional Islam, seperti masjid dan pesantren, tetapi sudah merambah hampir semua lini yang selama ini dianggap sebagai lingkaran sekular: kampus, sekolah, kantor pemerintah, dan kantor perusahaan. Ekspresi Islam tidak lagi terbatas di ruang-ruang publik tradisional Islam, seperti jamaah di masjid, pengajian, pembelajaran di pesantren, dan lain-lain. Islam telah menyeruak keluar dari basis tradisionalnya, membanjiri ruang-ruang publik modern: pembelajaran di sekolah dan kampus negeri, aktivitas kerja di kantor pemerintah dan perusahaan swasta, termasuk juga pasar-pasar modern. Dakwah Islam tidak lagi terbatas di kantung-kantung tradisional Muslim, tetapi dikembangkan lebih kreatif lagi di organisasi-organisasi profesional, lembaga dakwah kampus di perguruan tinggi sekular, dan seksi kerohanian Islam di sekolah-sekolah negeri.

Para ahli tentang Indonesia memperkirakan bahwa pertumbuhan kesalehan seperti ini mulai muncul pada era 1980-an, dan hal ini menjadi salah satu indikator kebangkitan Islam di negeri ini (Hefner, 2000). Akan tetapi, kebangkitan Islam seperti ini tidak sejalan dengan tesis benturan peradaban (Huntington, 1996), karena Islam di Indonesia bukanlah entitas tunggal yang berbenturan dengan kebudayaan lain, dan Islam mainstream di negeri ini cenderung akomodatif terhadap jalan modernitas dan demokrasi. Entitas Islam di Indonesia terfragmentasi ke dalam visi-visi Islam yang berbeda. Mereka saling bersaing dalam tradisi politik yang berbeda, tetapi justru menyokong sebuah masyarakat sipil yang demokratis (Hefner, 2000).

Dalam konteks yang lebih luas di Dunia Muslim, ciri persaingan yang menonjol di antara tradisi dan visi Islam yang berbeda disebut sebagai “objektivikasi pengetahuan keagamaan”, dan bersamaan dengan hal itu terjadi pluralisme wewenang keagamaan (Eickelman & Piscatori, 1996). Berbeda dengan abad ketika pengetahuan Islam dimonopoli oleh sejumlah kecil ulama, saat ini pengetahuan dan praktik Islam merupakan objek kepentingan bagi sejumlah orang yang kian meningkat jumlahnya. Hampir mirip dengan pengaruh kapitalisme cetak (print capitalism) terhadap nasionalisme Eropa (Anderson, 2006), objektivikasi pengetahuan Islam berlangsung bersamaan dengan ekspansi pendidikan tinggi massa, kebangkitan pasar yang luas bagi buku-buku dan surat kabar Islam yang murah (Atiyeh, 1995). Pada saat yang sama, struktur masyarakat pedesaan semakin terdesak oleh ekspansi masyarakat urban. Dengan migrasi, pendidikan, urbanisasi, struktur-struktur sosial yang telah lama mengatur masyarakat menjadi lemah (Hefner, 2000), dan pada saat yang sama para ulama kehilangan monopoli mereka terhadap wewenang keagamaan (Eickelman & Piscatori, 1996). Alhasil, di seluruh Dunia Muslim, para muballigh yang merakyat (Antoun & Hegland, 1987) (Villalón, 1999) (Mardin, 1989) dan para “intelektual Muslim baru” yang mendapatkan pendidikan sekular [(Meeker, 1991) (Roy, 1993)] bersaing dengan para ulama yang mendapat dukungan negara untuk mendefinisikan Islam. Di beberapa negara, fragmentasi wewenang tersebut telah menyebabkan terjadinya pluralisme kekuatan sosial dan menjadi kekuatan pemaksa demokratisasi (Villalon, 1995). Namun, ketika persaingan itu berlangsung bersamaan dengan perang saudara, kehancuran ekonomi, polarisasi etnik atau kekerasan negara, persaingan itu kadang-kadang beriringan dengan meningkatnya neo-fundamentalisme keras yang bertentangan dengan pluralisme, emansipasi perempuan, dan masyarakat sipil Islam (Fuller, 1996) (Roy, 1993).

Baca juga:  Serial Kebangkitan Islam di Indonesia (2): Pertumbuhan Politik Islam

Jika banyak ahli tentang Indonesia mengakui adanya kebangkitan Islam di negeri ini, tentunya kebangkitan itu bukan persoalan kuantitas, karena jika dilihat dari angka statistik jumlah Muslim di negeri ini, tidak ada ledakan besar pertumbuhan jumlah Muslim Indonesia. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan kecenderungan menurun.

Dengan mempertimbangkan data statistik di atas, kebangkitan Islam di Indonesia bukan merupakan ledakan jumlah Muslim, tetapi lebih merujuk pada pengamalan ajaran Islam yang merupakan pengalaman subjektif. Dalam hal ini, kebangkitan itu lebih ditandai oleh pertumbuhan kesalehan. Tentunya, pertumbuhan kesalehan Islam memiliki banyak ekspresi yang bisa disaksikan secara kasat mata.

2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *