Serial Kebangkitan Islam di Indonesia (3): Pertumbuhan Hijab dan Gaya Hidup Islami

Beberapa saat menjelang kejatuhan Presiden Suharto pada tahun 1998, sebuah demonstrasi protes yang unik digelar di Bundaran Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta: sebagian besar demonstran adalah perempuan, dan semuanya menggunakan jilbab berwarna putih, berada di garis terdepan barisan protes. Mereka menuntut agar rezim korup Suharto segera mengundurkan diri, suatu tuntutan yang massive di kalangan gerakan mahasiswa pada saat itu. Aksi protes tersebut tampak tertib dan damai, berbeda dengan aksi protes lainnya pada saat itu yang cenderung berakhir rusuh (kekerasan) dan disertai penangkapan beberapa aktivisnya. Aparat keamanan tampak tidak berani mengambil langkah kekerasan untuk menangani aksi protes mahasiswa berjilbab, sehingga aksi protes pada saat itu berlangsung damai, tanpa kekerasan.

Strategi protes seperti ini merupakan kreativitas yang luar biasa dari kalangan mahasiswa Muslim, dan terbukti ampuh meredam kekerasan. Jilbab telah memberi perlindungan simbolik dari ancaman kekerasan dalam aksi-aksi pro-demokrasi pada akhir tahun 1990-an. Hal ini juga menyampaikan pesan yang kuat kepada publik bahwa gerakan perempuan berjilbab merupakan kekuatan moral, bukan sebuah kekuatan politik (Madrid, 1999) (Rahmat & Najib, 2001). Di belakang hari kemudian, Suzanne Brenner memberikan analisis bahwa jilbab bukan merupakan simbol tradisionalisme Islam atau domestifikasi perempuan, sebagaimana pandangan Barat tentang hal ini, melainkan sebuah alat untuk mengekspresikan mobilitas yang tinggi dan aktivisme politik (Brenner, 2005) bandingkan dengan (Mahmood, 2005) (White, 2002).

Munculnya perempuan berjilbab di garis depan barisan aksi protes menjelang kejatuhan Presiden Suharto memiliki benang merah dengan gejala pertumbuhan kesalehan di Indonesia. Nancy Smith-Hefner secara langsung menghubungkan pertumbuhan perempuan berjilbab sebagai bagian dari rangkaian besar kebangkitan Islam. Mereka sama sekali berbeda dengan generasi sebelumnya.[1] Pada tahun 1970-an, mahasiswa Muslim di kampus-kampus Yogyakarta yang memakai jilbab kurang dari 3%, sementara pada akhir tahun 1990-an, jumlah mahasiswa Muslim yang berjilbab lebih dari 60% (Smith-Hefner, 2007).

Para perempuan ini diuntungkan oleh kebijakan pendidikan Orde Baru yang sukses menyelenggarakan pendidikan dasar, dan secara dramatis meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan menengah dan pendidikan tinggi (Jones, 1994) (Oey-Gardiner, 1991). Meskipun pendaftaran siswa perempuan masih tertinggal dari siswa laki-laki, kesenjangan itu terus menyempit. Pada tahun 1971, keseimbangan jumlah laki-laki dan perempuan yang masuk di perguruan tinggi masih sebesar 48%, tetapi pada tahun 1990, kesenjangan tersebut menyempit menjadi 29% (Hull & Jones, 1994, pp. 164-168).

Baca juga:  Generasi Milenial, Modal Sosial, dan Keteladanan Politik

Di samping itu, sebagaimana telah disampaikan di depan, mereka juga telah mengalami pendidikan agama yang wajib diselenggarakan di semua sekolah sejak tahun 1967. Pendidikan agama Islam difokuskan pada basis ajaran Islam (tauhid) dan praktik ibadah. Hal ini tampak menjadikan tradisi Jawa (Kejawen) tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena mengandung unsur politeisme (syirk) (Hefner, 1993) (Liddle, 1996).

Di tingkat perguruan tinggi, para perempuan ini juga mengalami sebuah program ambisius yang dikemas dalam “dakwah kampus”. Pada awal tahun 1970an, meskipun organisasi-organisasi mahasiswa Muslim masih belum berpengaruh luas, mereka sudah memulai kegiatan dakwah kampus secara efektif bagi mahasiswa-mahasiswa yang baru masuk perguruan tinggi (Collins, 2004) (Kraince, 2003). Di Universitas Gadjah Mada, mereka mengembangkan pengkaderan yang didedikasikan untuk islamisasi kehidupan mahasiswa. Para aktivis mahasiswa Muslim yang tergabung dalam Jamaah Shalahuddin UGM mengembangkan kegiatan Pendampingan Agama Islam (PAI) yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa baru (Muslim). Walaupun terdapat kurikulum resmi Pendampingan Agama Islam bagi mahasiswa baru, mereka sering memanfaatkan kegiatan ini untuk menentang depolitisasi Islam (Rahmat & Najib, 2001) (Madrid, 1999). Banyak mahasiswi Muslim yang mengalami kesadaran Islam tentang jilbab pada periode ini (Smith-Hefner, 2007).

Perkembangan pendidikan ini telah mendorong mobilitas perempuan untuk masuk ke dunia kerja dalam berbagai profesi (Smith-Hefner, 2007). Dalam ruang demokrasi yang semakin terbuka, kebangkitan Islam telah memberi kekuatan bagi perempuan muda Jawa untuk membangun model modernisasi gender. Fenomena jilbab merupakan indikasi perubahan ini. Bagi sebagian besar muslim kelas menengah, jilbab merupakan simbol keterlibatan dalam modernitas dalam bentuk yang islami. Meskipun maknanya bervariasi, bagi perempuan Muslim di Indonesia, jilbab lebih merupakan instrumen untuk kesalehan yang tinggi dan partisipasi publik, daripada isolasi domestik. Hal ini menjadi semacam kontras dengan nilai-nilai tradisional priyayi yang dianggap feodal (Dzuhayatin, 2001). Jilbab sebagai simbol penolakan terhadap femininitas rezim suharto yang menempatkan perempuan dalam image sebagai consumer-homemakers atau self-sacrificing nurturers of future loyal citizens (Brenner, 2005).

Baca juga:  Serial Kebangkitan Islam di Indonesia (2): Pertumbuhan Politik Islam

Belasan tahun setelah peristiwa itu, jilbab di Indonesia telah berkembang sedemikian rupa mengiringi perkembangan fashion Islam yang bersemangat. Jilbab di Indonesia berkembang menjadi banyak variasi model yang juga menggerakkan ekonomi kerakyatan, mulai dari bentuk cadar sampai jilbab yang “minimalis”. Apapun bentuknya, jilbab telah menandai sebuah kebangkitan Islam yang bersemangat di Indonesia, dan saat ini telah menjadi gaya hidup yang lekat dengan industri dan dikonsumsi oleh komunitas yang biasa disebut “Kaum Hijabers”.

Kaum hijabers tumbuh dari industri mode Islami. Setelah dirintis oleh artis-artis 1980-an seperti Anne Rufaidah, Ida Royani, dan Ida Leman, bisnis mode Islami (yang tak lain mengacu terutama pada industri mode jilbab), industri tersebut mengalami pertumbuhan mengesankan pada 2000-an. Kaum hijabers bisa dianggap salah satu representasi mutakhir pertumbuhan industri tersebut. Misalnya: Sebuah berita di situs kabarbisnis.com menyigi Indonesia Hijab Festival ke-2, pada 2-5 Mei 2013 di Surabaya, menarget pendapatan selama festival sebesar satu milyar rupiah (http://www.kabarbisnis.com/read/2838654). Target itu telah disederhanakan dari target Indonesia Hijab Festival pertama di Bandung, 2012, sejumlah 1,5 milyar rupiah –dan diklaim oleh penyelenggaranya malah meraup tiga milyar rupiah selama festival. Di samping itu, Majalah SWA dalam Edisi 18/2014 memuat sebuah tajuk berjudul “Merayakan Ledakan Pasar Kelas Menengah Muslim”. Dalam tajuk itu disebutkan bahwa populasi kelas menengah muslim sekitar 112 juta orang, dengan nilai pasar sebesar Rp 112 triliun perbulan. Gelombang gaya hidup islami makin mewabah di hampir seluruh aspek kehidupan. Pasar kelas menengah Muslim dengan daya beli yang cukup tinggi membuat produk syariah laku keras, mulai dari fashion, perbankan, kosmetik, hotel, reksadana, makanan halal, lembaga amal zakat, umroh & travel religi, hingga salon kecantikan.

Industri yang semakin sering menyebut diri “industri hijab” tersebut disangga oleh pertumbuhan pesat komunitas-komunitas hijabers di berbagai kota Indonesia. Kaum hijabers tersebut memiliki ciri ingin memakai jilbab tanpa menanggalkan hasrat menjadi cantik. Di sini kita pun melihat sebuah hibridisasi yang sukar dibayangkan para pejuang jilbab awal di 1980-an: makna “cantik” yang diangankan kaum hijabers itu hampir sepenuhnya mengadopsi konstruksi ideologi kecantikan menurut industri mode di negara-negara kapitalis maju. Gaya hidup yang memadukan kesalehan dan hasrat kecantikan disebut dengan “spiritual beauty” (Jones, 2010).

Baca juga:  Hijab di Indonesia: Sejarah dan Kontroversinya

Tentu saja perkembangan seperti ini tidak lepas dari kritik, karena konstruksi pemaknaan “cantik” kaum hijabers itu lekat dengan tindakan konsumtif, terkait erat dengan perilaku mengonsumsi produk-produk kecantikan, fashion, dan segala gaya hidup yang menjadi sertaannya. Makna radikal kata “hijab” telah luruh, tergerus makna industrialnya. Sebagian pengkritik menyebut gejala ini eupakan bagian dari gejala komodifikasi agama, dalam hal ini Islam, dan umat telah beralih menjadi konsumen.

Walaupun ada benarnya, kritik tersebut mengandung generalisasi. Setidaknya, ada 2 tahap menuju spiritual beauty: Pertama, kewajiban memakai jilbab atau hijab menjadi ekspresi simbolik kehadiran Islam dalam diri seseorang maupun dalam sebuah masyarakat. Dalam hal ini, ada serangkaian tata perilaku yang diharapkan ada pada para pemakai jilbab agar memenuhi kelayakan sebagai seorang “perempuan sholihah”. Kedua, sebagian kaum perempuan berjilbab mengekspresikan kepribadiannya melalui kemampuan tampil modis. Menjadi bagian dari komunitas hijabers adalah salah satu contoh terkini ekspresi kepribadian perempuan muslimah dalam konstruksi pemahaman Islam sebagai gaya hidup.

Dalam konteks yang pertama, penggunaan hijab di kalangan muslimah Indonesia perlu diapresiasi sebagai ekspresi kesalehan. Mereka melakukannya bukan atas dasar tekanan struktural, melainkan lebih merupakan motivasi pribadi. Mereka sendiri memutuskan untuk mengubah pakaian mereka sebagai proses kesadaran diri dan rekonstruksi diri. Cara berpakaian yang baru menyebabkan mereka mengubah perilaku. Lebih dari sekedar ekspresi kesalehan, jilbab juga digunakan oleh Muslimah di Indonesia sebagai suatu tanda global, suatu lambang identifikasi orang Islam di Indonesia untuk menolak tradisi lokal dalam hal berpakaian sekaligus juga menolak hegemoni dan fashion Barat (Brenner, 2005).

[1] Gambaran tentang perempuan Jawa satu generasi sebelumnya bisa dilihat pada (Hull, 1975). Beberapa gambaran yang lain bisa dilihat pada (Geertz, 1961) (Jay, 1969) (Hart, 1978) (Stoler, 1975) (Stoler, 1977) (White, 1976).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *