Serial Kebangkitan Islam di Indonesia (4): Pertumbuhan Literasi Quran

Menjelang Pemilihan Presiden 2014, masyarakat Indonesia disibukkan dengan pencitraan dan kampanye dua Calon Presiden: Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Salah satu masalah yang cukup menonjol selama kampanye adalah masalah literasi: Joko Widodo dikabarkan tidak mampu membaca Al-Qur’an. Rumor ini ternyata cukup menggelisahkan bagi para pendukung Joko Widodo, karena hal ini dikhawatirkan akan merusak popularitasnya. Oleh karena itu, video Joko Widodo menjadi imam shalat diunggah di YouTube. Calon Wakil Presiden Jusuf Kalla juga mengusulkan diselenggarakannya Kompetisi Literasi Al-Quran di antara dua Calon Presiden. Isu ini menjadi topik pembicaraan panas di berbagai media, dan terus sebagai trending topic di berbagai media sosial sebelum Pemilu Presiden. Ini adalah fenomena yang sangat unik: bagaimana mungkin masalah literasi al-Quran bisa menjadi isu kampanye yang bisa mengkhawatirkan pemilih di Indonesia?

Dalam konteks Indonesia, persoalan literasi memiliki akar sejarah yang sangat kuat dalam tradisi keagamaan di negeri ini. Molly Bondan (Bondan, 1995) dalam bukunya “In Love with a Nation” mengungkapkan bahwa ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, jumlah penduduk melek huruf (latin) kurang dari 7%, dan pada tahun 1945, ketika Indonesia merdeka, sekitar 90% dari orang di negeri ini yang buta huruf.[1] Akan tetapi, ada hal lain yang tidak menjadi perhatian Molly Bondan tentang literasi, yaitu literasi Arab (al-Quran) yang sudah berlangsung berabad-abad. Dalam konteks Jawa, perbedaan kemampuan literasi Arab dan Latin, secara tidak langsung, sebenarnya membagi segmen multikultural masyarakat Jawa yang memperkuat tesis Geertz (Geertz, 1960) tentang trikotomi agama di Jawa: Santri, Abangan, dan Priyayi. Orang-orang terpelajar dalam tulisan Arab bisa dikategorikan sebagai Santri, sedangkan orang-orang terpelajar dalam aksara Latin bisa dikategorikan sebagai Priyayi, dan orang-orang buta huruf dalam tulisan Arab dan tulisan Latin bisa dikategorikan sebagai Abangan.

Baca juga:  Budaya Populer dan Agama: Fenomena Islam Indonesia Kontemporer

Dalam perkembangan keagamaan di Jawa pada tahun 1980-an, golongan masyarakat abangan (Kejawen) sudah mulai tergerus akibat pendidikan yang massive dan menguatnya ortodoksi keislaman (Ricklefs, 2012) (Hefner, 2000). Sebagian besar orang-orang abangan yang dahulu memegang teguh nilai-nilai tradisi Kejawen akhirnya menerima ortodoksi Islam sebagaimana yang berlaku di kalangan golongan santri (Hefner, 2000). Sebagai akibatnya, pembelajaran Islam mulai ramai sejak pertengahan 1980-an. Oleh karena entry point untuk pembelajaran Islam ialah literasi al-Quran, maka pembelajaran literasi al-Quran pada tahun itu memperoleh momentum yang semakin besar. Sejak saat itu, sebagaimana “Muslim tanpa Masjid” (Koentowijoyo, 2001), pembelajaran literasi al-Quran tidak lagi terbatas hanya di masjid dan pesantren, tetapi sudah menembus tembok-tembok sekularisme yang angkuh, menjangkau berbagai segmen yang beragam: mulai anak-anak sampai dewasa/tua, dari pedesaan sampai perkotaan, dari sekolah-sekolah sampai kantor-kantor mewah.

Literasi al-Quran merupakan salah satu instrumen kesalehan normatif Islam yang memiliki sejarah panjang semenjak pewahyuan al-Quran kepada Nabi Muhammad (Gade, 1999 ). Sejak lama literasi al-Quran menjadi salah satu tolok ukur kesalehan Islam. Jika ada Muslim yang tidak bisa membaca al-Quran tentunya nilai kesalehannya dianggap rendah. Dalam hubungan santri-abangan di Jawa, atribut ini seringkali dinisbatkan kepada kaum abangan, yaitu kaum Muslim yang kurang ortodoks. Sebagaimana keluarga santri, Muslim harus memiliki kemampuan literasi al-Quran yang memiliki mata rantai pembelajaran (sanad) yang jelas.

Di tengah kebangkitan spiritualitas Islam di Indonesia, meluasnya pembelajaran literasi al-Quran tentunya merupakan salah satu tanda yang jelas tentang pertumbuhan kesalehan Islam di Indonesia. Sebagaimana diungkapkan oleh Gade (Gade, 2004), pertumbuhan yang massive dalam pembelajaran literasi al-Quran bukan merupakan sebuah trend, tetapi merupakan cultivation of virtue and affective states. Menurutnya, ada 4 bentuk ekspresi dalam literasi al-Quran, yaitu menghafal (tahfidz), membaca (qira-ah), melagukan (tilawah), dan kompetisi (musabaqah), yang kesemuanya terkondisikan secara emosional dengan al-Quran sehingga dapat berpengaruh pada perilaku orang yang membaca al-Quran.

Baca juga:  Serial Kebangkitan Islam di Indonesia (1): Pertumbuhan Kualitas Keislaman

———————————–

[1] Menghadapi kenyataan rendahnya kemampuan literasi ini, Pemerintah Sukarno meluncurkan Program Literasi pada tanggal 14 Maret 1948. Pemerintah berpikir bahwa salah satu hambatan kemajuan bangsa adalah tingkat melek huruf yang rendah. Situasi ini tidak jarang di banyak negara pasca-kolonial. Pada bulan Juni 1948, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengintensifkan gerakan literasi. Banyak program keaksaraan dibuka secara intensif di sejumlah residensi (kabupaten politik), seperti Malang, Surabaya, Kediri, Madiun, Bojonegoro, Semarang, Pati, Surakarta, Kedu, Yogyakarta, Banyumas, dan lain-lain. Jumlah program keaksaraan yang diselenggarakan oleh Pemerintah sebesar 18 663, dengan 17.822 guru dan 761.483 siswa. Selain itu, beberapa kursus diadakan secara independen, dan ini berjumlah 881, dengan 515 guru dan 33.626 murid.

One comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *