Serial Kebangkitan Islam di Indonesia (5): Pertumbuhan Market Islam

Pada tahun 2001, Ary Ginanjar Agustian, seorang motivator dalam pembangunan karakter, menulis sebuah buku yang fenomenal: “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ – Emotional Spiritual Quotient) Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam” (Agustian, 2001). Di dalam buku tersebut ia menyampaikan gagasan bahwa kecerdasan intelektual (IQ) saja tidak cukup. Untuk menjadi seseorang yang berhasil diperlukan juga kecerdasan emosional (EQ), yang akan memberikan keterampilan dalam bersosialiasi dan berhubungan dengan orang lain, serta kecerdasan spiritual (SQ) yang akan memberikan jawaban atas eksistensi diri. Untuk menggabungkan ketiga kecerdasan tersebut, dirancanglah sebuah konsep yang disebutnya The ESQWay165, yaitu sebuah konsep pembangunan karakter yang komprehensif dan integratif berdasarkan 1 nilai universal, 6 prinsip pembanguan mental, dan 5 langkah aksi. Semuanya merujuk pada ajaran Islam: Tauhid, Rukun Iman, Rukun Islam.

Tema ESQ merupakan semangat zaman pada awal tahun 2000-an. Konsep ini banyak diadopsi oleh kantor-kantor pemerintah dan perusahaan besar untuk mendorong karyawan dalam mengembangkan kesalehan Islam yang bemanfaat bagi kinerja, produktivitas, dan tanggung jawab pribadi. Mereka mengontrak motivator-motivator handal untuk menyelenggarakan pelatihan motivasi bagi karyawan secara berkala. Pelatihan tersebut mengusung tema-tema Islam untuk memotivasi karyawan mengembangkan sejenis kesalehan Islam yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja, tanggung jawab, team building, solidaritas dan kepedulian sosial, efektivitas kerja, dan lain-lain.

Hal ini menunjukkan bahwa prinsip Islam sejajar dengan norma-norma kapitalisme modern yang mengintroduksi kesadaran spiritual ke dalam kehidupan. Banyak perusahaan mendorong pembudayaan kesalehan individual sebagai cara untuk mendorong kedisiplinan dan perilaku ekonomi rasional (Rudnyckyj, 2009). Para motivator menekankan kepada para karyawan bahwa bekerja yang baik merupakan tugas keagamaan. Mereka merujuk pada teks-teks religius untuk membangun kerja keras dan keluarga yang bahagia. Para pekerja memberi perhatian khusus pada waktu dan produktivitas dalam bekerja sebagai bagian dari kesalehan, sebagaimana dianalogikan bahwa setiap muslim punya komitmen untuk menjaga shalat 5 waktu sehari dalam waktu yang ditentukan.

Baca juga:  Budaya Populer dan Agama: Fenomena Islam Indonesia Kontemporer

Pembudayaan kesalehan pribadi dalam rangka mendorong produktivitas tenaga kerja merupakan sebuah bentuk spiritual economy (Rudnyckyj, 2009). Dalam konteks yang lebih luas, hal ini sesungguhnya berhubungan erat dengan daya saing dalam kompetisi pasar global. Hal ini, oleh Rudnyckyj, disebut sebagai market Islam, yaitu sebuah kombinasi antara praktik reliigius dan pengetahuan manajemen bisnis yang dilihat sebagai sebuah peluang untuk sukses dalam kompetisi ekonomi global yang semakin meningkat (Rudnyckyj, 2009).

Market Islam menunjukkan bagaimana praktik keislaman dimobilisasi untuk memfasilitasi transisi dari rezim pembangunan yang didukung oleh negara dengan mengorganisasikan tenaga kerja dan aktivitas komersial sesuai dengan prinsip pasar. Hal ini menunjukkan bahwa praktik religius Muslim sejalan dengan etika kapitalisme. Hal yang sama juga terjadi pada perkembangan perbankan syariah yang bertahan di tengah hempasan krisis ekonomi 1998 (Seibel, 2008).

Apa yang berlaku dalam perkembangan market Islam di Indonesia sejalan dengan sebuah karya klasik “Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” (Weber, 2005 [1930]). Kerja dipandang sebagai “Beruf” yang berarti panggilan. Kerja tidak hanya sekedar pemenuhan keperluan, tetapi suatu tugas yang suci. Hal ini merupakan bentuk innerwordly ascesticism, yaitu intensifikasi pengabdian agama yang dijalankan dalam kegairahan kerja sebagai gambaran dan pernyataan dari manusia yang terpilih. Apa yang diungkapkan Weber tentang ”Etika Protestan” rupanya memiliki kongruensi dengan yang terjadi di Islam (Abdullah, 1986). Etika yang dipancarkan oleh Al-Qur’an hampir tak berbeda jauh dengan yang disebut Weber sebagai etika Protestan: ketekunan, hemat, berperhitungan, rasional, sanggup menahan diri, jujur, dan kerja keras,”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *