Cerpen: Jangan Dikubur sebagai Pahlawan


Pengantar Redaksi

Sastra bisa menjadi salah satu media belajar bagi kaum muda millenial untuk memaknai hidup, termasuk cerita pendek (cerpen). Cerita-cerita yang terkandung di dalamnya, meskipun singkat, menginspirasi banyak nilai yang bermakna.

Prof. Koentowijoyo, seorang sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, merupakan salah satu cerpenis yang produktif semasa hidupnya. Salah satu cerpen yang pernah ia tulis ialah “Jangan Dikubur sebagai Pahlawan”. Cerpen ini pertama kali diterbitkan di Kompas Minggu, 22 Juli 1996. Semoga Allah menerima seluruh amalnya, dan memberinya maghfirah. Selamat membaca!


 

Bapak-bapak dan Ibu-ibu anggota LMD! Saya mengundang untuk rapat hari ini, sebagai lurah dan sebagai pribadi. Sebagai lurah, masa jabatan saya sudah dua kali, jadi menurut peraturan saya tak boleh mencalonkan lagi. Saya berani berkata, kata orang sononya, sebab nothing to lose, tidak akan kehilangan apa-apa, kalau-kalau kelakuan saya ini dinilai tidak baik. Adapun sebagai pribadi, tentu saja saya berdiri di sini untuk memberikan keterangan sebenarnya tentang apa yang saya alami, saya lihat, dan saya dengar. Maafkanlah saya akan menceritakan masa lalu, tapi tidak berarti mengungkit-ungkit.

Kebenaran, semata-mata demi kebenaran, Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Terus terang saja, pikiran ini muncul setelah saya mendengarkan pengarahan Sri Sultan dalam “Lokakarya Kesadaran Sosial”. Beliau mengatakan supaya moralitas pribadi dan moralitas public sejalan, atau, dalam istilah penataran P4 kita, keduanya harus selaras, serasi, dan seimbang. Semuanya demi anak-cucu, demi Republik yang kita cintai, supaya orang tidak tertipu.

Waktu itu tahun 1947, zaman Revolusi. Ayah saya bertugas di Dinas Penjualan Garam dan Candu. Tidak ada garam, jadi praktis yang dijual ialah candu. Entah kenapa, barangkali pemerintah perlu uang, hingga candu pun dijual. Kami tinggal di sebuah rumah dinas yang luas, dekat pabrik gula, dekat lapangan bola. Untuk ulang tahun saya, ayah me-ngunduh klub klenengan-nya ke rumah. Rupanya ayah terpengaruh kebiasaan Belanda yang dipelajarinya pada zaman Jepang waktu ia bertugas di interniran. Gamelan-gamelan disiapkan di rumah. Yang tidak disetujui ibuku ialah ayah juga membeli beberapa botol jenewer local. Ibu bilang,”Haram,haram.” Tapi kata ayah, “Hidup ini sudah sulit. Biarlah mereka bersenang-senang. Asal kita sendiri tidak minum.”

Klenengan sudah dimulai, tamu-tamu sudah dating. Kami sengaja tidak mengundang tledek, karena ibuku akan mem-veto.”Kau boleh klenengan, boleh menyediakan jenewer, tapi jangan berani-berani mengundang tledek,” kata ibu. Waktu itu citra tledek amat buruknya, selalu dihubungkan dengan seks bebas. Bila ada tledek, akan ada tari tayub,yang khusus untuk para lelaki. Para lelaki akan setengah mabuk setelah minum jenewer, mereka kehilangan rasa malu. Sambil menari-nari setiap gong berbunyi laki-laki yang sedang menari akan mencium tledek, sengok. Mereka juga memasukkan uang ke kutang tledek, sambil tangan meraba-raba entah apa yang ada di dalam kutang. Tledek juga bisa diajak kencan.

Baca juga:  Sastra yang Dicap Anti-Islam

Maka datanglah Sangadi. Ya, Sangadi yang jadi satu-satunya orang yang dikubur di Makam Pahlawan desa kita, yang setiap 17 Agustus dan 10 November selalu dikunjungi anak-anak sekolah, hansip, dan perabot desa itu. Dia memakai iket coklat gaya solo, beskap krem, sapu tangan di saku kiri atas, kain batik, dan sekop. Tidak lupa ia juga merokok pipa, dan melambai-lambaikan tongkat seperti orang besar. Dia memberi perintah kepada para penabuh, “Kebogiro, kebogiro!” Anehnya, barangkali karena takut, klenengan pun berubah jadi kebogiro, yang biasa untuk menghormati orang besar atau temanten. Ayah tergopoh-gopoh menyambutnya, danmau mendudukkan di kursi depan, tempat yang sama dengan pak Seten, Pak Mantri Gede, dan Pak Lurah. Tapi kata Sangadi,”Mana cucuku yang ulang tahun?” Ayah melambaikan tangan kepadaku dan aku mendekat. Sangadi mencium ubun-ubunku. Dia merogoh sakunya. Ayah saya mengatakan, :Tak usahlah memberikan uang padanya.” Ini rupanya tidak berkenan dihati Sangadi. Ia mendongak. “Maksud saya,” kata ayah, “eh, maksud saya tak baik anak kecil memegang uang.” Kata Sangadi, “Percayalah, ini uang halal, seseorang menyuruhku memijat kudanya, dan uang ini diberikan padaku.” Cepat dia memindahkan uang logam ke tanganku. Di belakang, ibuku marah-marah,”Kau tak boleh terima uang dari dia. Tidak boleh. Berikan uang itu.” Kemudian ibu merampas uang dari tanganku. Esok harinya sejumlah yang sama dibagikan kepada pengemis. Rupanya setiap orang membenci Sangadi, kecuali ayah.

Cerita orang, Sangadi itu duk-deng, kulitnya adalah kulit badak, tulang-tulangnya seperti besi, jari-jarinya seperti paku baja, dan dagingnya kenyal seperti ban truk. Bila sudah marah, hawa panas akan keluar dari tubuhnya, membakar apa saja di sekitarnya. Dapat orang terbunuh, hanya karena kena serempet jari-jarinya. Ia tidak luka oleh keris, malah tertawa kegelian bila ditombak. Pendek kata seperti gambaran Gatotkaca dalam wayang itu. Ditembak, Bapak-Ibu? Dengarkan dulu kelanjutan ceritanya.

Tanpa segan-segan Sangadi duduk dekat Pak Seten. Sangadi merasa sejajar. Bila Pak Seten adalah kepala pemerintahan di kecamatan itu, ia adalah kepala kecu- eh, saya terlanjur bercerita- untuk seluruh kecamatan. Tidak ada bedanya, kalau Pak Seten adalah kepala dunia atas, dia adalah kepala dunia bawah. Kalau Pak Seten mengepalai dunia terang, maka Sangadi mengepalai dunia gelap. Mungkin karena terlalu banyak minum, mungkin sudah agak mabuk dari rumah, Sangadi mabuk. Kata-kata buruk dan jorok keluar dari mulutnya, dia sangat kaya dengan perbendaharaan kata kotor dan jorok, semacam kamus berjalan-lah. Ia mengamuk, gamelan berhenti. Sangadi menyepak gong dan kendang, juga kursi-kursi terserak. Orang-orang menyingkir, ketakutan. Pesta itu bubar sebelum waktunya. Ayah-ibu sia-sia saja meminta orang untuk duduk kembali, setidak-tidaknya untuk makan.

Sangadi bersahabat baik dengan ayahku. Barangkali persahabatan yang aneh. Sangadi adalah bajingan paling ditakuti dan ayahku termasuk orang yang dihormati. Waktu itu penjual garam dan candu disebut mantra, sudah dianggap seorang priyayi. Rahasianya? Ayahku memegang hidup dan mati Sangadi: Sangadi seorang peminum candu dan ayah penjual candu. Ayah suka memberi candu Sangadi dua kali lipat dari orang lain. Ini mungkin semacam kolusi model lama, ayah saya akan menaruh nama fiktif untuk keperluan itu. Kalau umpamanya satu orang dapat satu tail, satu tube, Sangadi akan dapat dua. Tentang persahabatan itu kakek -ayah dari ayah- sudah memperingatkan, “bajingan itu ya bajingan.” Kata ayah saya,”Berbuat baik itu ya berbuat baik.”

Baca juga:  Puisi-Puisi Nizar Qabbani

Sekali ayah kena batunya. Ayah kecurian beberapa kotak candu. Pencuri itu membuat lubang di tembok. Ayah minta tolong Sangadi untuk menangkap pencuri. Sangadi pun memeriksa lubang tempat pencuri masuk. Katanya,”Ini mesti perbuatan si Anu dari Anu, sungguh bajingan tengik. Mencuri tidak lihat-lihat. Barangkali telinganya tuli, barangkali matanya buta. Lihat lubang ini. Seperti segi tiga dengan lancip di atas. Serahkan saya. Akan saya urus.” Sangadi itu bisa halus seperti layaknya orang jawa, tetapi kalau aslinya keluar sudah jangan Tanya kasarnya.

Coba untuk “telinganya tuli” dia bilang “kupinge kopoken” dan untuk “matanya buta” “matane picek”. Tetapi, tunggu punya tunggu pencuri itu tidak pernah ketemu. Kalau ayah menanyakan hal itu kepada Sangadi selalu dijawabnya,”beres,beres” Kabarnya pencuri itu memberi upeti dua kotak candu kepada Sangadi. Kata kakek, “Bajingan jangan disuruh menangkap maling, mereka akan bersekongkol.”

Sangadi dulu penjaga kebun tebu yang ditakuti orang. Jangan kau berani-berani mencuri tebu. Bila anak-anak akan ditempeleng sampai klenger, bila laki-laki akan dihajar sampai minta-minta ampun, dan bila perempuan akan ditelanjangi. Bila ada perempuan berani lewat bulak tempat ia jaga menjelang gelap atau malam hari, itu kesalahan besar. Mereka pasti jadi mangsa Sangadi. Sudah berkali-kali ada perempuan yang bernasib seperti itu. Tapi tidak ada yang berani melapor polisi.

Suatu kali Sangadi terlibat pembunuhan. Ia sedang berjudi, dan rupanya malam itu ia bernasib sial. Selalu kalah. Dia menuduh yang punya rumah memasang guna-guna, lalu dengan marah membunuhnya. Orang sedesa menabuh kentongan tanda ada pembunuhan, rajapati. Polisi datang dengan sepeda motor dan senapan. Tahu kalau yang mau dibekuk itu Sangadi mereka datang banyak-banyak. Ketika melihat semua polisi mengarahkan senapan padanya, Sangadi tidak berkutik. Ia dibawa polisi, diadili. Kabarnya ia dihukum 20 tahun. Tetapi baru menjalani 15 tahun, jepang datang dan ia dibebaskan.

Pada zaman Revolusi, dia semakin merajalela. Orang tidak berani menangkap pencuri, perampokan sering terjadi, perjudian seolah-olah halal, pelacuran dibiarkan berkembang, dan orang dhemenan tak pernah digropyok. Alasannya: jangan berani-berani kau bertindak, Sangadi ada dibelakang. Jadi, kalau umpamanya digardu ronda ada orang bilang,”Baru saja kutiduri janda Anu,”sebaiknya kau diam.

Baca juga:  Inspirasi Novel Frankenstein: Saat Langit Eropa Tertutup Abu Tambora

Tidak ada cara lain bagi Sangadi kecuali jadi mata-mata Belanda. Pernah ia bergabung dengan gerilya, tapi lalu diusir. Di penampungan para pengungsi pekerjaanya ialah bergerilya sendiri malam-malam dengan pengungsi-pengungsi wanita. Umurnya masih panjang, sebab ia hanya diusir, tidak dibunuh. Suatu hari paman, adik ibuku, datang dan bilang,”Dengan pistol ini akan kubunuh Sangadi,” katanya sambil menunjukkan pistolnya.”Membunuh dia tidak semudah membunuh ayam,” sahut ayah.

Kemudian ayah bercerita bahwa dia duk-deng, “Biarkan segalanya terserah pada yang Yang Membuat Hidup. Kalau dia menghendakinya mati, kesrimpet sapu saja dia mati. Bila dia masih menghendakinya hidup, ya sehat-walafiatlah ia, sekalipun diberondong peluru.”

Walhasil, paman urung membunuh Sangadi.

Sangadi bebas keluar-masuk pabrik gula, meskipun pabrik dijaga serdadu Belanda, karena dia diangkat jadi kepala mata-mata. Yang disenanginya benar ialah dia bisa minum jenewer sungguhan bikinan Belanda. Kerjanya sebagai kepala mata-mata pribumi akan digantikan seseorang, karena ternyata dia bukan organisator yang baik. Laporannya tentang markas pasukan, kekuatan pasukan, pencegatan, dan penyerbuan kebanyakan dinilai bohong. Mendengar bahwa dia akan diganti, dia marah-marah. Dalam kemarahannya dia bilang,

“Semua Belanda bajingan! Enyahlah kau dari bumi Indonesia!”

Kemudian dia membuka bajunya. Tampaklah dadanya, sambil menantang dia bilang, “Tembaklah dadaku!”

Beberapa orang serdadu menembaknya. Tidak satu peluru pun merusakkan kulitnya. Mereka terheran-heran. Kemudian serdadu-serdadu Belanda itu mengambil jeep, Sangadi diringkus beramai-ramai, dan dengan tali Sangadi diseret sekitar pabrik. Melewati batu, tanah, rumput, bata dan pecahan-pecahan kaca. Mereka baru berhenti menyiksa Sangadi ketika hari mulai gelap.

Ketika para serdadu sudah pergi dan meninggalkan Sangadi begitu saja, seorang anggota mata-mata pribumi mendekat, memotong tali dari tangannya. Tidak terperikan keadaan Sangadi, orang lain pasti sudah mati. Badanya rusak, penuh darah bercampur tanah, baju dan celana sobek-sobek. Setelah dibebaskan dari tali, Sangadi bilang,

“Aku tidak kuat lagi. Saya kira sudah saatnya aku mati.”

“Apa maumu?”

“Ambilkan aku seember air.”

Orang itu mengambil air sumur, Sangadi minta dia mengucurkan air ke badannya.

“Sudah, ya,” Kemudian Sangadi meninggal. Beberapa orang menggotongnya keluar dari pabrik. Mereka ketemu orang-orang dari kampong kita, lalu dikuburkan di makam umum desa. Setelah aman, makam itu dibongkar dan dipindahkan ke tempat yang baru, yang kita kenal sebagai Makam Pahlawan.

Nah, kalau kita mengingat kisahnya sebelum mati, sudah pantas dia jadi pahlawan. Tetapi kalau mengingat wanita-wanita yang diperkosa dan orang yang dibunuh rasanya sepatutnya dia mendapat balasan. Adapun kebaikannya kepada saya, memberi uang halal, saya kira sudah terbalas dengan tutup mulut saya selama hampir lima puluh tahun.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *